Halaman

Kamis, 19 Februari 2015

POPO YANG GEMAR MAKAN

     Penduduk kota Cuongkok hidup dalam kegelapan. Tanah gersang, hasil panen mereka seringkali habis diambil pencuri. Hanya hutan bambu yang tumbuh teramat rimbun di pinggir kota. Sinar matahari sampai susah masuk kota karena terhalang rimbunnya daun bambu. Penduduk kota pun tak berani membabat hutan bambu. Menurut kepercayaan masyarakat Cina, hutan bambu tidak boleh ditebang.

     Suatu hari, salah seorang penduduk menemukan seekor bayi panda. Bagi rakyat Cina, panda adalah lambang keseimbangan alam dan kesejahteraan. Mereka lalu merawat bayi panda dengan baik di hutan bambu. Panda itu mereka beri nama Popo.
     Popo pun tumbuh sebagai binatang yang cepat besar. Saat berusia satu tahun, berat Popo mencapai 50 kilo atau seberat dua karung beras. Tidak ada yang heran, karena memang Popo suka sekali makan. Tunas bambu muda,daun,sampai batang bisa ia habiskan. Bisa dibilang, kerja Popo sehari-hari adalah makan dan mengunyah.
     "Duh, duh, si panda rakus sekali. Makan enggak pernah berhenti." terdengar bisik-bisik tikus di antara rerimbunan pohon bambu.
     Popo panda sedang asyik mengunyah batang bambu di hutan bambu. Ia tidak peduli pada bisik-bisik itu. Bagi Popo, makan adalah pekerjaannya. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan banyak batang bambu. Hutan bambu yang terlalu lebat, kini terlihat terang. Matahari pun bisa menyinari kota.
     "Tuh, lihat! Panda itu tidak pernah bekerja. Sudah dipelihara penduduk desa, makan terus kerjanya."
     Masih terdengar bisikan tikus. Popo pun masih terus mengunyah daun bambu kesukaannya. Namun, kali ini, kunyahannya semakin pelan. Ada sesuatu yang mengganggunya.
     "Hei, Panda. Tahu tidak? Penduduk desa di sana sedang kekurangan makanan. Bahan makanan mereka sering dicuri. Kamu malah makan terus, tidak mencoba membantu mereka!" seekor tikus besar muncul di hadapan Popo.
     Popo tersedak karena kaget. Ia menangis mendengar ejekan tikus-tikus. Sejak saat itu, ia memilih untuk puasa makan. Akibatnya, Popo sering pingsan dan sakit-sakitan.
     Tetua kota yang selalu mengawasi dan merawat Popo, jadi khawatir. Penduduk kota pun jadi panik. Popo yang jatuh sakit membuat mereka tak tenang.
     "Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi dengan desa kita? Sejak memelihara Popo, desa kita aman dari gangguan pencuri makanan. Sekarang, pencuri-pencuri makanan itu datang lagi. Kota menjadi tak aman," lapor penduduk desa saat rapat bersama.
     "Sepertinya, desa kita berada dalam masalah. Jika Popo sampai mati, desa kita akan sial tujuh turunan," kata penduduk desa lainnya.
     "Jangan-jangan, ada sesuatu di hutan bambu yang bikin Popo tak mau makan. Kita harus menyelidikinya malam ini di sekitar hutan bambu." Tetua kota mengumumkan kecurigaannya.
Popo termenung di ranjang, sakit. Yang bikin ia sakit adalah ejekan tikus-tikus itu mengejek dirinya karena ada maksud buruk. Popo mulai curiga pada tikus-tikus itu. Jika ia tak makan seminggu, hutan bambu berubah menjadi rimbun lagi.
     Aha! Popo kini mengerti maksud buruk tikus. Rerimbunan bambu adalah tempat tikus-tikus bersembunyi saat mau mencuri makanan penduduk. Buktinya, saat Popo sakit, rumah-rumah penduduk malah banyak kecurian. Saat Popo membersihkan hutan bambu, tikus-tikus tak berani mendekati kota karena takut terlihat.
     Penduduk belum pernah melihat pencuri makanan mereka. Mereka bingung mengusir pencuri-pencuri yang tak terlihat jejaknya.
     Popo kini tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau dibohongi lagi oleh tikus-tikus licik.
Ia bergegas ke hutan bambu dan mengunyah makanan yang ada. Biar saja si tikus bandel tidak kebagian tempat sembunyi. Bila penduduk menggeledah hutan bambu, maka para tikus pencuri pasti mudah tertangkap.
     Benar dugaan Popo. Pada malam hari, gerombolan tikus datang. Karena tak ada tempat sembunyi, tubuh mereka terlihat jelas di bawah sinar bulan. Para penduduk yang sigap segera menangkap gerombolan tikus pencuri satu per satu. Sejak saat itu, tak ada seekor pun tikus berani mendekati rumah penduduk selama Popo masih gemar makan.
     Tikus-tikus yang berhasil selamat, kesal pada Popo. Mereka terus saja mengejek Popo yang gemar makan. Mereka berharap Popo jatuh sakit lagi. Namun ejekan tikus-tikus itu sia-sia.
     Sekarang Popo sudah kebal diejek. Buat apa menghiraukan ejekan binatang lain? Siapa pun yang suka mengejek, artinya iri hati. Popo tak ingin jatuh sakit lagi, hanya gara-gara sedih diejek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar