Rambutnya
keriting, perawakannya kecil kurus. Ia sering sekali mengejek anak lain
sambil tertawa puas. Nama anak laki-laki kelas 4 SD itu Lintang! Ia
suka mencuri buah belimbing di rumah Ludi. Ia sering menarik-narik
rambut Dini yang dikuncir ekor kuda. Ia suka menyembunyikan pensil Dita.
Ia juga mencorat-coret komik kesayangan Reni.
Bila tiba saatnya bekerja kelompok di kelas, tak ada yang mau menerima Lintang sebagai anggota kelompok. Seperti kali ini.
"Kelompok kami pas," kata Niar, takut-takut. Ia khawatir menjadi sasaran kenakalan Lintang.
Kelas Lintang mendapat tugas kelompok dari Pak Widi untuk membuat kliping tentang bangunan bersejarah di Indonesia.
"Memangnya kamu enggak lihat, kami sudah berempat? Enggak ada tempat buatmu," kata Reni sengit.
"Masih
tunggu Dita, mau atau enggak dia bergabung dengan kami. Dita, kan,
pintar dan rajin. Kami senang bekerja kelompok dengannya. Kalau Dita
mau, jumlah anggota kami sudah pas," ujar Dini tegas.
"Aah, payah!" sahut Lintang sambil menarik rambut Dini.
"Aduh, Lintang! Kuadukan pada Pak Widi," sungut Dini.
"Adukan
saja! Paling-paling disuruh menulis 'Aku berjanji tidak akan nakal
lagi' sebanyak lima puluh kali. Jangankan lima puluh, seratus kali pun
aku sanggup." Lintang tersenyum menyeringai.
Sepulang
sekolah, Lintang memutuskan untuk mengerjakan sendiri tugasnya.
Mula-mula. ia membongkar majalah anak-anak di lemari bukunya. Ibu
berlangganan majalah untuk Lintang. Tetapi, Lintang jarang menyentuhnya.
Ia malas membaca.
Lintang
menemukan beberapa artikel yang dicari, tetapi jumlahnya masih kurang.
Lintang terus mencari. Sebagian majalah yang ia bongkar, ia rapikan
kembali.
"Sedang apa, Nak?" tanya ibu.
"Mencari bahan kliping. Bu. Tugas dari Pak Widi," sahut Lintang lemas.
"Tidak berkelompok? Biasanya kan, dikerjakan beramai-ramai," tukas ibu.
Lintang
termangu. "Kata Pak Widi, ini harus dikerjakan sendiri," bohongnya. Ah,
andai tahu yang sesungguhnya terjadi, Ibu pasti sedih, pikir Lintang.
"Kalau
begitu, makan siang dulu. Di lemari es, Ibu juga sudah bikin belimbing
iris tipis kesukaanmu. Pakai bumbu gula merah, lagi. Pasti segar, kan?"
Ibu mengelus punggung Lintang. "Nanti Ibu bantu mencarikan bahan
kliping."
Lintang menurut. Tiba-tiba, ia merasa sedih, tak ada teman yang mau sekelompok dengannya.
Setelah
makan, Lintang mengambil mainan tentara-tentaraan. Ia bermain sambil
tiduran di sofa ruang tamu. Perut kenyang dan terpaan angin sejuk
membuat Lintang mengantuk sekali.
"Wah,
kebetulan kamu datang, Din. Tolong carikan bahan kliping untuk tugas
Lintang lewat internet. Kelihatannya, Lintang kelelahan mencari bahan
dari majalah, padahal baru dapat sedikit." Terdengar suara Ibu.
"Tentang apa, Kak?" Itu suara Tante Andin, adik Ibu.
"Bangunan
bersejarah di Indonesia. Tolong carikan, ya. Ajari Lintang menggunakan
internet. Setelah dapat, biar Lintang membaca dan mempelajarinya, supaya
ia paham. Mungkin butuh banyak waktu. Lintang bisa cepat mempelajari
bahan pelajaran."
"Iya, Kak, nanti kucarikan. Tadi Lintang mencari bahan di majalah apa? Mungkin ada yang terlewat. Dimana majalah-majalahnya?"
"Itu didekat sofa. Sudah ditumpuk rapi. Lintang memang rapi," sahut Ibu.
Obrolan
Ibu dan Tante Andin masih berlanjut. Lintang memicingkan mata. Ia
sangat mengantuk, namun sayup-sayup mendengar percakapan Ibu dengan
Tante Andin tadi.
Tante Andin menikmati es sirup buatan Ibu di teras. "Wah, makin subur, Kak, tanamannya."
"Iya.
Kebetulan, itu jenis tanaman yang mudah dirawat. Setiap sore, Lintang
membantu menyirami. Seminggu sekali tanahnya digemburkan. Lintang rajin
membantu."
Lintang
mendengarnya samar-samar. Rasanya bahagia mendengar pujian Ibu. Ibu
bilang Lintang rapi, mudah memahami bahan pelajaran, dan rajin membantu.
Ternyata, Ibu tidak menyimpan marah pada Lintang. Padahal, Ibu pernah
dipanggil Pak Widi karena Lintang menyembunyikan buku gambar Niar.
Pernah memintakan maaf pada ibu Ludi, karena Lintang mencuri belimbing
di rumah Ludi. Pernah juga mengganti komik Reni yang dicoret-coret
Lintang.
Ibut
pernah memarahi Lintang, tetapi tak pernah marah besar. Ibu hanya
meminta Lintang tidak bersikap buruk. Ibu sangat sayang padanya. Lintang
tak ingin membuat ibu sedih dan kecewa lagi.
Lintang
ingin menjadi Lintang yang baru. Rambutnya boleh saja masih keriting.
Ia juga masih kurus. Tetapi besok, ia akan memiliki senyum manis yang
tulus dan siap bersikap baik. Ia ingin menjadi teman yang tidak
menjengkelkan.
"Ah, tak sabar menunggu besok. Aku akan berubah menjadi Lintang yang baik," janji Lintang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar