Halaman

Kamis, 19 Februari 2015

Sayang Ibu Padaku


Rambutnya keriting, perawakannya kecil kurus. Ia sering sekali mengejek anak lain sambil tertawa puas. Nama anak laki-laki kelas 4 SD itu Lintang! Ia suka mencuri buah belimbing di rumah Ludi. Ia sering menarik-narik rambut Dini yang dikuncir ekor kuda. Ia suka menyembunyikan pensil Dita. Ia juga mencorat-coret komik kesayangan Reni. 
Bila tiba saatnya bekerja kelompok di kelas, tak ada yang mau menerima Lintang sebagai anggota kelompok. Seperti kali ini. 
"Kelompok kami pas," kata Niar, takut-takut. Ia khawatir menjadi sasaran kenakalan Lintang. 
Kelas Lintang mendapat tugas kelompok dari Pak Widi untuk membuat kliping tentang bangunan bersejarah di Indonesia. 
"Memangnya kamu enggak lihat, kami sudah berempat? Enggak ada tempat buatmu," kata Reni sengit. 
"Masih tunggu Dita, mau atau enggak dia bergabung dengan kami. Dita, kan, pintar dan rajin. Kami senang bekerja kelompok dengannya. Kalau Dita mau, jumlah anggota kami sudah pas," ujar Dini tegas. 
"Aah, payah!" sahut Lintang sambil menarik rambut Dini. 
"Aduh, Lintang! Kuadukan pada Pak Widi," sungut Dini. 
"Adukan saja! Paling-paling disuruh menulis 'Aku berjanji tidak akan nakal lagi' sebanyak lima puluh kali. Jangankan lima puluh, seratus kali pun aku sanggup." Lintang tersenyum menyeringai. 
Sepulang sekolah, Lintang memutuskan untuk mengerjakan sendiri tugasnya. Mula-mula. ia membongkar majalah anak-anak di lemari bukunya. Ibu berlangganan majalah untuk Lintang. Tetapi, Lintang jarang menyentuhnya. Ia malas membaca. 
Lintang menemukan beberapa artikel yang dicari, tetapi jumlahnya masih kurang. Lintang terus mencari. Sebagian majalah yang ia bongkar, ia rapikan kembali. 
"Sedang apa, Nak?" tanya ibu. 
"Mencari bahan kliping. Bu. Tugas dari Pak Widi," sahut Lintang lemas. 
"Tidak berkelompok? Biasanya kan, dikerjakan beramai-ramai," tukas ibu. 
Lintang termangu. "Kata Pak Widi, ini harus dikerjakan sendiri," bohongnya. Ah, andai tahu yang sesungguhnya terjadi, Ibu pasti sedih, pikir Lintang. 
"Kalau begitu, makan siang dulu. Di lemari es, Ibu juga sudah bikin belimbing iris tipis kesukaanmu. Pakai bumbu gula merah, lagi. Pasti segar, kan?" Ibu mengelus punggung Lintang. "Nanti Ibu bantu mencarikan bahan kliping." 
Lintang menurut. Tiba-tiba, ia merasa sedih, tak ada teman yang mau sekelompok dengannya. 
Setelah makan, Lintang mengambil mainan tentara-tentaraan. Ia bermain sambil tiduran di sofa ruang tamu. Perut kenyang dan terpaan angin sejuk membuat Lintang mengantuk sekali. 
"Wah, kebetulan kamu datang, Din. Tolong carikan bahan kliping untuk tugas Lintang lewat internet. Kelihatannya, Lintang kelelahan mencari bahan dari majalah, padahal baru dapat sedikit." Terdengar suara Ibu. 
"Tentang apa, Kak?" Itu suara Tante Andin, adik Ibu. 
"Bangunan bersejarah di Indonesia. Tolong carikan, ya. Ajari Lintang menggunakan internet. Setelah dapat, biar Lintang membaca dan mempelajarinya, supaya ia paham. Mungkin butuh banyak waktu. Lintang bisa cepat mempelajari bahan pelajaran." 
"Iya, Kak, nanti kucarikan. Tadi Lintang mencari bahan di majalah apa? Mungkin ada yang terlewat. Dimana majalah-majalahnya?" 
"Itu didekat sofa. Sudah ditumpuk rapi. Lintang memang rapi," sahut Ibu. 
Obrolan Ibu dan Tante Andin masih berlanjut. Lintang memicingkan mata. Ia sangat mengantuk, namun sayup-sayup mendengar percakapan Ibu dengan Tante Andin tadi. 
Tante Andin menikmati es sirup buatan Ibu di teras. "Wah, makin subur, Kak, tanamannya." 
"Iya. Kebetulan, itu jenis tanaman yang mudah dirawat. Setiap sore, Lintang membantu menyirami. Seminggu sekali tanahnya digemburkan. Lintang rajin membantu." 
Lintang mendengarnya samar-samar. Rasanya bahagia mendengar pujian Ibu. Ibu bilang Lintang rapi, mudah memahami bahan pelajaran, dan rajin membantu. Ternyata, Ibu tidak menyimpan marah pada Lintang. Padahal, Ibu pernah dipanggil Pak Widi karena Lintang menyembunyikan buku gambar Niar. Pernah memintakan maaf pada ibu Ludi, karena Lintang mencuri belimbing di rumah Ludi. Pernah juga mengganti komik Reni yang dicoret-coret Lintang. 
Ibut pernah memarahi Lintang, tetapi tak pernah marah besar. Ibu hanya meminta Lintang tidak bersikap buruk. Ibu sangat sayang padanya. Lintang tak ingin membuat ibu sedih dan kecewa lagi. 
Lintang ingin menjadi Lintang yang baru. Rambutnya boleh saja masih keriting. Ia juga masih kurus. Tetapi besok, ia akan memiliki senyum manis yang tulus dan siap bersikap baik. Ia ingin menjadi teman yang tidak menjengkelkan. 
"Ah, tak sabar menunggu besok. Aku akan berubah menjadi Lintang yang baik," janji Lintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar